SURAMADUPOST Surabaya – Eri Cahyadi selaku Walikota Surabaya meminta maaf kepada warganya atas banjir atau genangan yang melanda sejumlah wilayah ibu kota provinsi Jawa Timur (Jatim) itu dalam dua hari berturut-turut, Senin (22/6) dan Selasa (23/6). Ia memastikan seluruh langkah penanganan banjir terus dioptimalkan agar aktivitas warga Kota Surabaya tetap berjalan normal.
“Saya mohon maaf kepada warga Surabaya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saat ini kami bekerja maksimal di lapangan,” kata mas wali panggilan akrab di pemkot surabaya
“ Saat ini kami sedang menganangani banjir dan genangan yang muncul aibat hujan deras yang mengguyur kota Surabaya selama dua hari berturut – turut “ Tambahnya.

Untuk mempercepat penanganan, Pemkot Surabaya telah mengerahkan 21 unit mobil pemadam kebakaran (PMK) serta sekitar 10 kendaraan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan perangkat daerah terkait. Seluruh armada tersebut dan kami telah keliling sejak pukul 02.30 WIB untuk melakukan penyedotan air di titik-titik rawan genangan.
Sejumlah titik banjir mulai surut pada Selasa pagi kemarin, meski beberapa lokasi masih dalam proses penanganan, terutama di area yang terdampak kerusakan dinding penahan sungai.
Pada 22 Juni 2026, hingga pukul 09.00 WIB, sejumlah titik di Kota Pahlawan mulai menunjukkan penurunan genangan, meski proses surut masih berlangsung bertahap akibat pengaruh pasang air laut.
Mas Wali mengakui salah satu penyebab banjir yang terjadi di 31 titik ini imbas sejumlah pekerjaan pembangunan dan normalisasi saluran drainase yang sedang berlangsung di berbagai titik kota.
Dia mengakui salah satu penyebab banjir yang terjadi di 31 titik ini imbas sejumlah pekerjaan pembangunan dan normalisasi saluran drainase yang sedang berlangsung di berbagai titik kota.
Pekerjaan tersebut meliputi pengerukan saluran, pemasangan box culvert, hingga perbaikan rumah pompa di sejumlah lokasi seperti Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, Imam Bonjol (rumah pompa Dinoyo), hingga Rungkut. Dalam proses pengerjaan, sebagian saluran ditutup sementara untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur.
Hal ini membuat aliran air tidak dapat berjalan optimal ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi secara tiba-tiba. “Dalam situasi seperti ini, kami dihadapkan pada dua pilihan, menghentikan proyek atau tetap melanjutkan untuk kepentingan jangka panjang. Kami memilih tetap berjalan, sambil memaksimalkan penanganan di lapangan,” ujarnya.
Selain curah hujan tinggi, kondisi pasang air laut juga turut memperberat penanganan. Tingginya muka air laut menyebabkan aliran sungai menuju laut terhambat, bahkan dalam beberapa kondisi air yang telah dipompa kembali terdorong ke daratan. Situasi ini membuat sistem pembuangan air tidak dapat bekerja maksimal.
Beberapa alternatif lain saya upayakan semaksimal mungkin, Bozem bozem dan kolam penampungan dan lahan lahan sebagai penyangga penampungan air kami maksimalkan untuk membantu mengatasi banjir di Surabaya.

Source : all media
Jurnalis : JP Sastra SP

















