SURAMADUPOST Surabaya – Kisah ini diunggah di akun Instagram Kapolrestabes Surabaya @luthfie.daily. Momen itu merekam pertemuan antara mahasiswi dengan korban yang ponselnya dia curi.Mahasiswi itu didampingi ibunya mengaku kepada Luthfie bahwa dia tak punya uang sama sekali.
Luthfie kemudian mencoba memediasi dengan menanyakan korban langkah berikutnya yang diambil. Rupanya, korban pun memaafkan perbuatan mahasiswi tersebut.
“Terpaksa apa gimana kok sampai (mencuri)?” tanya Luthfie.
“Nggak ada uang,” jawab mahasiswi.
“Mbak mau penginnya bagaimana?” tanya Luthfie kepada korban.
“Iya (diselesaikan secara) kekeluargaan, Pak,” jawab korban.

Mendengar jawaban itu, mahasiswi tersebut dengan urai air matanya memohon ampun kepada korban disertai sang ibu yang juga meneteskan air matanya.
“Maaf, ya, Mbak,” kata mahasiswi kepada korban. Selama ini, mahasiswi tersebut bertahan hidup dengan uang Rp 200 ribu selama sebulan.
Luthfie bertanya bagaimana caranya bertahan hidup dengan saku Rp 200 ribu satu bulan tersebut.
“Rp 200 ribu per bulan cukup emang, gimana caranya? Masak gak?” kata Luthfie.
“Masak nasi,” jawab mahasiswi.”Lauknya apa biasanya buat makan?” tanya Luthfie lagi. “Telur dadar sama mi,” kata mahasiswi.

Ibu dari mahasiswi ini merupakan ibu rumah tangga. Sedangkan ayahnya bekerja sebagai buruh tani. Akademik mahasiswi tersebut tergolong berprestasi dengan nilai yang tinggi saat ditanya Luthfie. “IPK 3.85. Nggak tahu kok tiba-tiba kepikiran nyuri,” ucap mahasiswi. “Nilai IPK 3.85 itu luar biasa,” kata Luthfie.
Mendengar kisah hidup mahasiswi tersebut, Luthfie merasa empati dan memberikan sejumlah uang untuk membantu biaya kos serta kebutuhan lainnya.
source : Ig @luthfie.daily
Jurnalis : JP.Sastra


















