SURAMADU POST Jakarta – Prajurit TNI AU, Serda Ahmad Muzammil Farisa, meninggal dunia setelah menjalani ‘pembinaan’ oleh empat seniornya di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (10/9/2026) dan kini tengah diselidiki Polisi Militer TNI AU (Pomau).
Ayah Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengatakan persoalan bermula ketika anaknya diminta senior membeli makanan. Namun, makanan yang dibawa tidak sesuai dengan pesanan. “Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng,” ujar Toni. Menurut Toni, Ahmad kemudian mengalami kekerasan hingga meninggal dunia.
“Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng,” ujar Toni.
Toni mengatakan dugaan kekerasan tersebut terjadi dalam dua waktu berbeda. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kejadian pertama berlangsung sekitar pukul 23.00 WIB pada Rabu (9/9/2026), kemudian kembali terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Tak lama setelah itu, Ahmad dinyatakan meninggal dunia.
Toni mengaku tidak menyangka pertemuannya dengan Ahmad pada Selasa (8/9/2026) di Jakarta menjadi pertemuan terakhir. Saat itu, dirinya sedang menjalankan tugas dinas dan berkesempatan bertemu putranya. Momen tersebut bahkan sempat diabadikan dalam foto.
“Tidak mengira pertemuan terakhir,” kata Toni dengan mata sembab.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI I Nyoman Suadnyana membenarkan bahwa kasus kematian Ahmad sedang ditangani Pomau. Ia mengatakan penyidik telah meminta keterangan dari sejumlah pihak serta mengumpulkan bukti untuk mengungkap kejadian secara utuh.
“TNI Angkatan Udara menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang personel TNI AU, Serda AMF. Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan yang dialaminya,” ujar Nyoman.
Nyoman menegaskan proses pemeriksaan dilakukan secara profesional dan objektif sesuai ketentuan hukum. TNI AU masih mendalami fakta kejadian, termasuk peran masing-masing personel yang diduga terlibat serta penyebab pasti kematian Ahmad.
Dalam perkembangan terbaru, empat prajurit yang diduga terlibat telah ditahan oleh Pomau. Namun, TNI AU masih menggunakan istilah “pembinaan” dalam menjelaskan kegiatan yang dialami Ahmad sebelum meninggal. Karena proses penyidikan masih berjalan, dugaan penganiayaan dan kaitannya dengan kematian Ahmad masih harus dibuktikan melalui proses
Namun, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI I Nyoman Suadnyana menyebut kejadian tersebut bukan penganiayaan, melainkan p£mbin4an. “Sudah ditahan. Bukan dianiaya, tetapi pembinaan. TNI AU berkomitmen mengusut tuntas dugaan pembinaan berlebihan yang menyebabkan Serda AMF meninggal,” kata Nyoman, Sabtu (12/9/2026). Empat prajurit senior telah ditahan untuk mengungkap bentuk ‘pembinaan’ yang dijalani Ahmad sebelum meninggal dunia.

Source : All Media
Jurnalis : Jos SP
















